Showing posts with label Adult. Show all posts
Showing posts with label Adult. Show all posts

Monday, October 29, 2007

Men Get Breast Cancer Too

Men Get Breast Cancer Too

Brian Place didn't think about breast cancer when he found a lump near his left nipple. He thought about rugby. The lump, he figured, might be an injury from colliding with another player.
Place's doctor didn't think much of the lump either, but recommended a mammogram nonetheless. After that came an ultrasound of the breast and a biopsy, and then, finally, a diagnosis: breast cancer. "I was completely numb," says Place, 41 at the time. "I let my colleagues know," he says — mostly men, as he's a communications technician for the Royal Air Force in Britain. "They were as dumbfounded as I was." Even at his local breast clinic, when Place would arrive, he says, some staff assumed he was accompanying a female patient.

The confusion is understandable. Only a tiny fraction of breast cancers diagnosed — less than 1% — occur in men. And because it happens so infrequently, much is still unknown about male breast cancer. "In women, we have studies based on hundreds of thousands of patients," says Dr. Larissa Korde, staff clinician at the National Cancer Institute's clinical genetics branch. For men, there are simply no studies of that scale. Though much can be extrapolated from research in women, Korde says, often "it's a little bit harder to make recommendations for men based on evidence."

Perhaps the surest risk factor — in both women and men — is family history. By the time Place was diagnosed, for example, two of his female relatives had died of breast cancer and a third of ovarian cancer. Although there are certainly several genes that contribute to breast cancer, mutations in two of them — BRCA1 and BRCA2 — are known to increase the odds of both breast and ovarian cancers. So while most men might never even meet a man with breast cancer, those who have several relatives diagnosed with it should be on the lookout for signs of their own breast tumors. Studies suggest that certain populations with an unusually high proportion of people carrying BRCA2 mutations — in Sweden, Hungary, Iceland, and among Ashkenazi Jews — may have a higher incidence rate of breast cancer in men.

Survival rates for men and women are similar, adjusting for stage of the disease at diagnosis — but men are more likely to be diagnosed at a later stage. That's probably because women undergo regular screening, Korde says. In men, "because it's not on their radar, [a lump] might not be something they get seen immediately." In men, as in women, treatment usually includes surgery followed by some combination of radiotherapy, chemotherapy and — because almost all men with breast cancer have tumors characterized as hormone-receptor-positive — hormone treatment.

Two years after his diagnosis, Place is well. His mastectomy was a success, and he's opted to stop taking hormone treatment, a relief, he says, because he found the side-effects, including hot flashes, unpleasant. Today he tries to answer questions from male breast-cancer patients in online cancer forums, and talks with people who contact him through the U.K. nonprofit Breast Cancer Care. But there's no doubt that even a relatively positive experience with male breast cancer can be isolating — even for women. As Place looked for information in online forums, he found that women were used to treating breast cancer sites as women's-only safehouses, a place to discuss their bodies with other women. Some, he says now, "can get quite aggressive that we're invading their area, if you will." But as with breast cancer in women, awareness can make the difference.

Wednesday, October 24, 2007

Berhentilah Merokok, Sekarang!

Berhentilah Merokok, Sekarang!
Minggu, 07 Januari 2007


Bagi para perokok, merokok bisa jadi merupakan aktivitas ringan nan menyenangkan. Namun, tidakkah terpikir oleh mereka bahwa merokok bisa merangsang munculnya 25 macam penyakit serius? Tak tahukah mereka bahwa dalam setiap menit ada delapan nyawa melayang akibat rokok?

Fakta-fakta itu bakal kian panjang bila diurai lebih jauh. Apalagi, seperti dikatakan dokter Tjandra Yoga Aditama SpP, spesialis paru dari Bagian Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit Persahabatan Jakarta, populasi perokok tetap saja tinggi. Tak hanya laki-laki dan perempuan dewasa, kebiasaan merokok pun merajalela di kalangan remaja. ''Bahkan, sekitar 9,3 persen mahasiswa fakultas kedokteran di Indonesia merupakan perokok aktif,'' ungkapnya dalam workshop yang diselenggarakan oleh Yayasan Konsumen Indonesia (YLKI) dan Public Health Advocacy Institute (PHAI) di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Data dari The Tobacco Atlas menyebutkan, pada 2002 Indonesia masuk dalam kelompok lima besar 'negara perokok'. Cina berada di urutan pertama dengan konsumsi 1.643 miliar batang, disusul Amerika Serikat 451 miliar batang, Jepang 328 miliar batang, Rusia 258 miliar batang, dan Indonesia di urutan ke lima dengan konsumsi sebanyak 215 miliar batang. Data ini tentu sangat memprihatinkan. Sebab, merokok bukanlah aktivitas yang menyehatkan, tapi sebaliknya mengundang penyakit.

Lebih lanjut Tjandra menjelaskan, pada asap rokok terdapat sekitar 4.000 bahan kimia berbahaya. Asap ini terbagi dua, yaitu asap utama (main stream smoke) yang keluar dari pangkal rokok dan asap sampingan (side stream smoke) yang keluar dari ujung rokok. Zat-zat berbahaya dari asap rokok tersebut antara lain: aseton (cat), ammonia (pembersih lantai), arsen (racun), butane (bahan bakar ringan), cadmium (aki mobil), karbon monoksida (asap knalpot), DDT (insektisida), hidrogen sianida (gas beracun), methanol (bensin roket), naftalen (kamper), toluene (pelarut industri), dan vinil chloride (plastik).

Penyakit-penyakit yang diakibatkan oleh rokok antara lain: paru-paru, jantung, kanker, gangguan kehamilan, dan sejumlah penyakit lainnya. Pada paru-paru, zat-zat berbahaya dari asap rokok bisa menimbulkan sejumlah penyakit serius seperti penyakit paru obstruktif kronis, kanker paru, dan penurunan faal paru. Pada jantung, ungkap aktivis Lembaga Menanggulangi Masalah Merokok (LM-3) ini, seorang perokok berisiko tiga kali lebih besar terkena serangan jantung dibandingkan mereka yang bukan perokok.

Bagaimana dengan penyakit kanker? Para perokok, kata Tjandra, berisiko terkena kanker mulut lima kali lebih besar karena asap rokok dihisap melalui mulut. Kemungkinan terserang kanker tenggorokan tidak kalah besarnya, yakni sembilan kali lebih besar dibanding mereka yang tidak merokok. Selain itu, perokok juga berisiko terserang beberapa jenis kanker lainnya seperti kanker kandung kemih (risiko 2-3 kali lebih besar), kanker bibir, pipi, lidah, pankreas, esofagus, dan kanker leher rahim.

Perokok perempuan berusia 35 tahun ke atas berisiko meninggal akibat kanker paru 12 kali lebih besar ketimbang perempuan yang tidak merokok. Di Amerika, kematian perempuan akibat kanker paru pada 1987 sudah lebih tinggi ketimbang kematian perempuan akibat kanker payudara. ''Bukan tidak mungkin hal yang sama akan terjadi juga di Indonesia,'' tuturnya.

Rokok juga bisa mengakibatkan gangguan reproduksi pada pria maupun wanita. Gangguan reproduksi pada pria dapat berupa impotensi, kemandulan, dan gangguan sperma. Sedangkan pada wanita berupa nyeri haid, menopause lebih awal, dan kemandulan. Di masa kehamilan, rokok meningkatkan risiko keguguran, kelahiran prematur, bayi lahir mati, berat badan janin turun sebesar 40-400 gram, gangguan tumbuh kembang, gangguan oksigenasi, dan gangguan enzim pernapasan pada janin. ''Dan bila ibu hamil merokok lebih dari 10 batang per hari, maka anak yang dilahirkan berisiko dua kali lebih besar untuk menderita penyakit asma.''

Di Amerika, dia melanjutkan, sekitar 12 persen ibu hamil tetap saja merokok. Akibatnya, nikotin, karbondioksida, dan 4.000 bahan kimia lain yang dihisap sang ibu akan dihisap pula oleh janinnya lewat plasenta. Alhasil, janin di rahim pun terpapar zat-zat berbahaya dari rokok. ''Bayi baru baru lahir pun 'ikut merokok' kalau ibu yang menyusui adalah perokok,'' tuturnya.

Deretan jenis masalah akibat rokok ternyata masih panjang. Rambut Anda yang indah, akan berbau dan kusam akibat asap rokok. Sementara mata Anda yang semula jernih akan menjadi berair, sering berkedip, dan lebih cepat terkena katarak. Dan Anda yang ingin selalu tampil dengan kulit yang cantik, sebaiknya jauhilah asap rokok. ''Sebab asap rokok membuat kulit cepat keriput dan cepat kelihatan tua.''

Anda tentu tak mau mengalami semua masalah itu, bukan? Maka, tak ada jalan lain kecuali segera menghentikan kebiasaan merokok. ''Kalau tak bisa serta merta, cobalah menghentikannya secara berangsur. Yang pasti, harus ada motivasi yang kuat.''
(bur )

Kiat Sukses: Stubborn Menghadapi Kegagalan

Kiat Sukses: Stubborn Menghadapi Kegagalan

Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-
galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami. (2Kor 4:8, 17)

Untuk sukses perlu satu modal sikap yang disebut Stubborn. Kadang kata ini diterjemahkan sebagai keras kepala. Tapi bisa juga diterjemahkan sebagai „bandel". Seperti kalimat „mesinnya bandel". Menurut Kamus Webster artinya menolak untuk menyerah pada kesulitan.

Orang yang stubborn, sekalipun menghadapi kegagalan, selalu bangkit untuk mencoba kembali.

Orang yang terkenal yang sering dipakai untul ilustrasi hal ini biasanya adalah Abraham Lincoln, Presiden Amerika Serikat ke-16 dan yang pertama dari Partai Republik. Memang hidupnya tidak pernah berhenti menjadi inspirasi bagi mereka yang langganan gagal.

12 Feb 1809 – Abraham Lincoln lahir di Nolin Creek, Kentucky
1832 – Dikalahkan dalam pemilihan legislatif lokal. Toko tempat dia bekerja bangkrut
1833 – Mencoba bisnis sendiri namun mengalami kebangkrutan dan memiliki banyak hutang
1835 – Tunangan meninggal dunia, partner bisnis meninggal dan hutangnya bertambah banyak
1836 – Mengalami Nervous breakdown
1837 – Melamar untuk menikahi Mary Owens, tapi cintanya ditolak
1843 – Dikalahkan dalam pemilihan untuk U.S Congress
1848 – Dikalahkan dalam pemilihan untuk U.S Congress
1855 – Dikalahkan dalam pemilihan U.S Senat
1856 – Dikalahkan dalam pemilihan untuk U.S Vice President
1858 – Dikalahkan dalam pemilihan U.S Senat
1860 – Abraham Lincoln, berhasil Menjadi Presiden USA

Luar biasa bukan? Gagal 10 kali namun selalau bangkit. Sampai akhirnya berhasil dan menjadi legenda.

Saudaraku, orang yang pesimis melihat kegagalan sebagai akhir dari segalanya. Tapi orang yang kuat dan stubborn melihat kegagalan sebagai kesuksesan yang tertunda. Melihat kegagalan sebagai batu lonjakan untuk pencapaian yang lebih tinggi. Seperti Rasul Paulus. Beliau menganggap penderitaan yang besar sebagai penderitaan yang ringan. Karena melihat bahwa penderitaan itu sedang mengerjakan kemuliaan yang lebih besar yang menanti.

Wah luar biasa. Sangat menghibur. Sangat menguatkan. Juga membangkitkan fighting spirit kita.

Jadi apapun yang anda hadapi hari ini. Ketahuilah bahwa semua orang sukses juga mengalami kesulitan dan kegagalan seperti ini.

Bedanya ?

Bedanya mereka tidak menyerah dan selalu bangkit kembali.

Bangkit dan kemudian berusaha lagi mengejar mimpi mereka..... Dan dengan pertolongan Tuhan Yesus, kita pasti akan berhasil.

All blessings,
Binsar

ps: anda bisa membaca artikel Kiat Sukses yang ber-ilustrasi di
http://binsar.blogspot.com/

Monday, November 27, 2006

MANAJEMEN STRESS

MANAJEMEN STRESS
=================
oleh : Steven covey

Pada saat memberikan kuliah tentang Manajemen Stress Steven Covey mengangkat segelas air dan bertanya kepada para siswanya: "Seberapa berat menurut anda kira-kira segelas air ini?"
Para siswa menjawab mulai dari 200 gr sampai 500 gr.
"Ini bukanlah masalah berat absolutnya, tapi tergantung berapa lama anda memegangnya." kata Covey.
"Jika saya memegangnya selama 1 menit, tidak ada masalah. Jika saya memegangnya selama 1 jam, lengan kanan saya akan sakit. Dan jika saya memegangnya selama 1 hari penuh, mungkin anda harus memanggilkan ambulans untuk saya. Beratnya sebenarnya sama, tapi semakin lama saya memegangnya, maka bebannya akan semakin berat."
"Jika kita membawa beban kita terus menerus, lambat laun kita tidak akan mampu membawanya lagi. Beban itu akan meningkat beratnya." lanjut Covey.
"Apa yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut, istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi".

Kita harus meninggalkan beban kita secara periodik, agar kita dapat lebih segar dan mampu membawanya lagi. Jadi sebelum pulang ke rumah dari pekerjaan sore ini, tinggalkan beban pekerjaan. Jangan bawa pulang. Beban itu dapat diambil lagi besok.
Apapun beban yang ada di pundak anda hari ini, coba tinggalkan sejenak jika bisa.

Google Translate

Adventist News Network

ReliefWeb: Latest Vacancies (in UN--United Nations)