Wednesday, November 29, 2006

Mengurangi Rokok, Tak Kurangi Risiko Penyakit Jantung

Mengurangi Rokok, Tak Kurangi Risiko Penyakit Jantung

Bila Anda ingin menghindari dampak buruk akibat merokok, maka tidak ada pilihan selain menghentikan kebiasaan buruk itu. Karena ternyata, mengurangi saja tidak cukup. Dari sebuah penelitian jangka panjang terungkap, risiko yang sama besar dengan perokok berat akan tetap menanti mereka yang hanya mengurangi rokok.
Anjuran yang telah sering kita dengar itu, kembali ditegaskan oleh sebuah tim peneliti di Norwegia yang melakukan riset mengenai dampak rokok, yang hasilnya dimuat dalam jurnal Tobacco Control. Disebutkan bahwa perokok berat yang mulai mengurangi rokok tetap berisiko fatal, yakni kematian akibat penyakit jantung.
Riset jangka panjang tersebut dilakukan tim peneliti terhadap lebih dari 51 ribu pria dan wanita berusia antara 20 dan 34 tahun. Di awal penelitian, tim menilai risiko penyakit kardiovaskular, lalu memonitornya selama 20 tahun.
Mereka dibagi menjadi beberapa kelompok, antara lain, bukan perokok, perokok kelas menengah (sampai 14 batang rokok per hari), dan kelompok yang mengurangi rokok (di awal riset mereka merokok lebih dari 15 batang sehari, lalu mengurangi rokok sampai setengahnya pada saat pemeriksaan kedua).
Selama 15 tahun pertama, pria yang mengurangi rokok memang risiko kematiannya lebih kecil dibanding perokok berat. Namun setelah lebih dari 15 tahun angka kematiannya menjadi sama.
Sedangkan pada wanita, perokok berat yang mengurangi rokok risikonya tetap sama besar dengan perokok berat, penyebabnya belum diketahui oleh tim peneliti.
Kepala tim peneliti, Dr.Kjell Bjartveit mengatakan merokok 1-4 batang sehari, risikonya besar terkena penyakit jantung serta munculnya sederet penyakit ngeri lainnya. Sehingga satu-satunya jalan untuk sehat adalah tidak merokok sama sekali...

Sumber:
BBC
Penulis: An
(this article was taken from milis mtri (mtri@yahoogroups.com)-- Masyarakat Tanpa Rokok Indonesia)

No comments:

Google Translate

Video

Loading...

Adventist News Network

ReliefWeb: Latest Vacancies (in UN--United Nations)